Feb
15
Michael Clayton (2007)
February 15, 2009 | Tagged Review Film | Leave a Comment
Starring: George Clooney, Tom Wilkinson, Tilda Swinton, Sydney Pollack, Michael O’Keefe
Directed by: Tony Gilroy
Di bagian awal, Michael Clayton (George Clooney) menyebut dirinya sebagai ‘Janitor’ kepada seorang klien. Dan inilah inti cerita bagaimana Clayton bekerja memiliht menjadi pengacara realis daripada menjadi pengacara yang bekerja untuk sebuah keajaiban, menyelamatkan orang-orang kaya dari penjara.
Michael Clayton adalah serorang pengacara mapan dengan setelan konservatif yang selalu tampil rapi. Tak banyak sisi kehidupan pribadi Clayton yang ditampilkan dalam film ini kecuali cerita tentang Clayton yang adalah duda beranak satu. Hubungan Clayton dengan anaknya terjalin baik dengan hubungan yang intens setiap hari Sabtu.
Akibat hobinya berjudi di kompleks pecinan dan investasinya yang hancur dalam bidang restoran, Clayton terlibat dalam hutang piutang sebesar 80.000 dollar. Tidak dijelaskan dengan gamblang, tetapi hutang piutang ini menjadi salah satu masalah penting dalam cerita ini.
Akibat hutang piutang sebesar ini, Clayton terpaksa menjual dirinya sebagai pengacara pembuat keajaiban di firma hukum Kenner, Bach & Ledeen. Di firma ini dia menjadi manusia yang hidup dalam area abu-abu antara moralitas dan amoralitas.
Ceritanya, firma hukum Kenner, Bach & Ledeen sedang menghadapi proses merger dengan firma sejenis di London. Merger ini akan menjadi penyelamat firma pimpinan Marty Bach (Sydney Pollack) dari kebangkrutan. Sementara disisi lain, klien terbesar firma ini, U/North, sedang menghadapi class action dengan tuntutan jutaan dollar.
U/North adalah perusahaan agribisnis multinasional yang memperkerjakan lebih dari 70.000 pekerja dan menggurita hingga ke 62 negara. Tentu saja, penyelesaian akhir yang buruk pada masalah yang dihadapi oleh U/North dalam menghadapi class action akan mempengaruhi citra firma pimpinan Bach dan mempengaruhi proses merger mereka.
Dalam permasalahan pelik tersebut, Clayton ditugaskan untuk membersihkan Arthur (Tom Wilkinson), salah seorang pimpinan U/North yang malah mencoba mendukung penuntut. Diam-diam Arthur menyimpan dokumen penelitian yang menjadi kunci kemenangan penuntut. Isinya menerangkan bahwa produk U/North adalah produk agribisnis yang berbahaya memicu kanker dan kematian.
Tema seperti ini bukanlah tema baru. Sebelumnya film bertema ‘perlawanan terhadap perusahaan multinasional’ juga pernah muncul seperti film ‘the Insider, dan The Contant Gardener. Cerita legal thriller seperti ini muncul pertama kali dalam garapan John Grisham 20 tahun lalu.
Pada dasarnya, ada dua jenis film thriller. Pertama, visceral thriller yang menegangkan dan membakar penonton sejak detik awal. Kedua, intelectual thriller yang membakar penonton secara perlahan. Dengan kata lain, jenis film drama yang kedua ini adalah film yang sedikit membosankan di detik-detik awal.
Diceritakan dalam bentuk flashback, agaknya Michel Clayton garapan Tony Gilroy ini agaknya masuk dalam jenis yang kedua. Perlu beberapa kali menonton untuk memahami film ini. Banyak detail film yang sebenarnya menjadi bagian sangat penting dalam film ini diceritakan dalam tekanan yang merata. Akibatnya, detail tersamar dan membuat orang akan menebak-nebak kelanjutan tiap detik film. Awalnya, sekali menonton, tebakan akan selalu meleset.
Arthur mati secara tak wajar ketika Clayton menemukan apa yang sebenarnya dikerjakan Arthur secara diam-diam. Clayton menyadari bahwa Arthur telah dibunuh untuk menyelamatkan U/North. Dari sinilah Clayton diuji pendiriannya di gray area. Meneruskan perjuangan Arthur yang membela ratusan korban perusahaannya sendiri, atau menyelamatkan U/North dan firma hukum pimpinan Bach.
Dari materi pemain, dapat dibayangkan bagaimana kekuatan film ini. Setiap pemain bermain dengan baik. Clooney berhasil menjadi Clayton yang penuh masalah, Tom Wilkinson berhasil menjadi Arthur yang gila dan tertekan. Sementara itu
Sementara itu Tony Gilroy yang baru memulai debut filmnya dalam Michael Clayton dengan cemerlang. Michael Clayton merupakan debutnya menyutradai film setelah sebelumnya Tony berperan sebagai screenwriter dalam keseluruhan sekuel Bourne. Bekerjasama dengan Robert Elswit sebagai sinematrografer, Tony berhasil membuat sebuah genre film intelectual thriller yang membutuhkan konsentrasi penontonnya.
“I am Shiva, the god of death” begitu kata Clayton mengakhiri film ini yang artinya, Clayton lebih memilih meneruskan pekerjaan Arthur, dan meninggalkan pekerjaannya selama ini sebagai ‘Janitor’, si pembersih masalah.
Feb
2
Menjawab Pertanyaan
February 2, 2009 | Tagged Corat Coret | Leave a Comment
Ini adalah salah satu bagian kecil dari hidupku. Bagian yang sangat-sangat kecil. Aku menyebutnya “menjawab pertanyaan”
Cerita ini dimulai dari sebuah percakapan di sebuah Burjo pada suatu pagi. Ya, sebuah percakapan, walaupun hanya melibatkan satu pertanyaan dan sebuah jawaban. Seperti pagi di hari-hari sebelumnya, aku biasa mengisi perut di burjo dekat kosan. Hanya perlu sekitar 30 detik berjalan kaki menuju kesana dengan jalan kaki. Jarak tempuh yang bias dibilang sangat-sangat dekat. Umumnya, orang akan memilih berjalan kaki untuk menempuh jarak sedekat itu. Tapi, aku memilih naik motor dengan waktu tempuh yang sedikit lebih lama daripada berjalan kaki.
Kembali ke warung burjo. Seperti biasanya, aku masuk ke warung burjo dengan memberi sedikit senyum pada penjaga burjo yang biasa kupanggil aa, dan langsung memesan menu paling murah disana. Pesananku nasi telor dan es the. Menurutku inilah paket pilihan menu paling murah setiap di burjo yang beroperasi di Jogja. Rp. 4000 cukup logislah untuk biaya sarapan. ”anak orang miskin ini” pikirku dalam hati.
Tak lama menunggu, pesanan pun datang. Aku adalah tipe orang yang tidak suka menunda pekerjaan. Maka es the baru datang pun langsung kusedot. “srettttt…” ini bukan soal kehausan tetapi masalah kebiasaan atau hobi mengulum sedotan dan akupun masih mengulum sedotan ketika Si aa burjo datang lagi membawa sebuah piring dan membantingnya di depanku. Sekali lagi bukan karena kelaparan, tapi aku langsung memakan pesanan yang datang. Inilah kebiasaan baikku, tidak menunda pekerjaan, apalagi pekerjaan menghabiskan makanan.
Terasing dari keramaian Burjo karena sibuk menyendok nasi dan memasukkannya ke dalam mulut, tiba-tiba seseorang melontarkan pertanyaan kepadaku “lagi sibuk apa di?”. Aku kaget, bukan karena suara yang mengagetkan tetapi pertanyaan itu seperti mengingatkan bahwa aku baru saja kehilangan kesibukan. Maklum, skripsi selesai, pekerjaan sebagai asisten peneliti pun selesai kontrak, dan kini aku jadi pengangguran. Tepatnya calon sarjana yang menganggur. Tunggu, bukan calon sarjana, tetapi sarjana yang jadi calon penganggur untuk beberapa bulan kedepan, itu kalau nasibku baik. Kalau bernasib buruk, mungkin jadi sarjana pengangguran dalam beberapa tahun kedepan. Wow, bukankah itu suatu hal yang sangat mengerikan?
Masih dengan keterkejutan, aku menoleh mencari sumber suara itu sambil mengulum sendok berisi nasi, sambal, dan secuil telor yang kusendok dari piring di depanku. Aih, ternyata itu suara Eka, salah satu teman kosku yang orang Bali. Dia melontarkan pertanyaan yang menohok. Aku bingung menjawabnya. Aku takut melontarkan jawaban yang memalukan. Aku takut orang-orang yang ada di burjo mendengar jawabanku dan menoleh kearahku dengan wajah mereka yang mengasihani, atau bahkan menyelamati bahwa aku akan segera jadi pengangguran. Dalam beberapa detik atau menit aku terdiam. “em…” dan akhirnya kutemukan jawaban yang tepat “lagi gak sibuk apa-apa”
Jawaban yang brilian. Aku tak percaya bisa menemukan jawaban brilian tersebut. “brilian” pikirku setelah menjawab si Eka. Setidaknya jawabanku tidak mengungkapkan masa depanku yang masih terbayang suram. Sempat terpikir untuk menjawabnya seperti ini. “lagi sibuk daftar wisuda” bukankah itu jawaban yang konyol? Seingatku mendaftar wisuda bisa selesai dalam satu hari dan itu bukanlah kesibukan yang perlu dibanggakan. Atau kata seorang teman, bukanlah hal yang bisa dikategorikan sebagai kesibukan.
Untungnya percakapan tidak berlanjut. Mungkin si Eka tahu aku tidak nyaman dengan pertanyaannya. Percakapan selesai, dan aku bisa melanjutkan acara makan pagiku masih dengan perasaan yang terganggu. Aku diingatkan oleh seseorang yang tak terduga bahwa aku akan segera menjadi pengangguran. Tanda-tandanya sudah jelas, bahwa sekarang aku sudah tidak punya kesibukan.
Pertanyaan sederhana dari seorang teman bisa menjadi hal yang sensitif bagi orang seperti aku yang masih sedikit takut melihat masa depan. Efeknya bisa bermacam-macam. Bisa down, termotivasi, atau bahkan tidak ada efek sama sekali. Tapi itu untuk orang-orang yang tidak paham terhadap sebuah pertanyaan sederhana seperti yang dilontarkan Eka kepadaku.
Inilah salah satu bagian hidupku yang sangat-sangat kecil. Bagiku hidup adalah seperti menjawab pertanyaan. Setiap hari selalu ada pertanyaan baru yang harus dijawab. Paling sederhana, setiap pagi pertanyaan tentang menu sarapan harus selalu kujawab sebelum terlambat sarapan. Maka, bagian-bagian hidupku yang lain adalah seperti sebuah buku pelajaran tanya jawab tentang kehidupan, satu-satunya buku pelajaran yang tidak pernah kutemui sejak mulai sekolah di taman kanak-kanak. Mungkin aku yang harus membuatnya sendiri untukku? Sebuah pertanyaan lain yang harus kujawab lagi.
Feb
2
Novel Picisan Tentang Pedalaman
February 2, 2009 | Tagged Review Novel | Leave a Comment
Judul : Lembata
Penulis : F. Rahardi
Penerbit : Lamalera, 2008
Tebal : ix + 256
Orang-orang bergerak tak jauh dari kemelaratan. Sementara itu, segelintir orang yang bergerak mendorong orang-orang melarat tersebut menjauh dari kemelaratan. Semua bergerak, namun Lembata, pulau kecil melarat yang baru delapan tahun menjadi kabupaten menjadi simpul utama bagi keseluruhan isi novel.
“Novel ini merupakan gugatan keras atas kebekuan dan ketulian Gereja” begitu pengantar penerbit diawal novel ini dengan sedikit contoh ilustrasi keberhasilan novel Da Vinci Code karya Dan Brown. Penerbit memberi sedikit gambaran kontekstual bagaimana novel karya F. Rahardi ini muncul.
Beberapa novel yang menyinggung sisi “lain” gereja memang sukses dipasaran beberapa tahun belakangan. Sebut saja, setelah Da Vinci Code dan Angel and Demon karya Dan Brown, menjamur novel dan buku dengan tema-tema serupa di Barat. Dan seperti tipikal industri kreatif di Indonesia, para penerbit dan penulis pun latah tak mau ketinggalan. Penerbit ramai menerjemahkan novel kontroversial tersebut. Penulis pun tak mau ketinggalan tren yang sedang digeluti para penerbit dengan menulis novel atau buku dengan tema serupa.
Jika dirunut kebelakang, jauh sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, gereja memang selalu obyek yang menarik. Kesakralan dan kuasa yang dimiliki gereja adalah daya tarik tersendiri bagi beberapa orang untuk imajinasikan isi dibalik temboknya. Hebatnya, di Barat imajinasi paling liar, layaknya ide tentang kebebasan adalah hal yang dilindungi.
Hal ini berbeda dengan dunia Timur yang selalu lebih melindungi simbol-simbol sakral daripada melindungi orang-orang yang menhidupi simbol-simbol tersebut. Lihat saja, orang-orang yang berimajinasi liar tentang Masjid, Al Quran, bahkan tentang ulama adalah orang yang dihalalkan untuk dibunuh. Karena itu, lagi-lagi gereja adalah simbol kesakralan yang aman untuk diimajinasikan secara liar.
Agaknya F. Rahardi menjadi salah satu contoh tipikal penulis Indonesia yang latah tak mau ketinggalan momen. Tanpa tema segar dan original, Lembata menjadi novelnya yang picisan dan mengimitasi ide populer tentang kekolotan gereja. Praktis tak ada hal baru yang akan menjadi inspirasi ketika membaca novel ini, terlebih jika pernah membaca Angel and Demon atau Da Vinci Code.
Dari segi tema, F. Rahardi memang tidak menawarkan hal baru selain sentuhan lokal dalam novelnya. Lembata menjadi pilihan tepat untuk menggambarkan sebagian kecil kemelaratan Indonesia. Selain Lembata, masih banyak pulau-pulau kecil yang dihuni orang-orang yang tak pernah bergerak menjauh dari kemelaratan. Sebut saja pulau-pulau seperti Nipah, Solor, Adonara, dan ratusan pulau kecil lainnya. Di pulau-pulau seperti ini, listrik PLN tidak pernah ada, listrik swadaya pun hanya bertahan dua jam sehari. Selama itulah jatah nonton TV yang interaksi dengan dunia luar dapat dilakukan.
Di pulau-pulau seperti ini, institusi agama menjadi salah satu pemilik kekuasaan politik selain pemerintah. Institusi agama seperti gereja bahkan memiliki jaringan yang bisa lebih dalam masuk dalam komunitas masyarakat daripada yang dilakukan pemerintah. Bayangkan saja, kepala desa bisa lebih tunduk kepada pastor daripada kepada camat maupun bupati.
Tanpa ide segar, memang membosankan membaca novel Lembata karya F. Rahardi ini. Terlebih pembaca Indonesia dalam beberapa tahun belakangan dicekoki dengan novel-novel Barat yang memiliki jalan cerita lebih canggih dan kompleks. Jika dibandingkan, bahkan dalam hal akrobat kata-kata F. Rahardi kalah telak.
Akrobat kata yang minim telah menjebat novel ini dalam kategori novel picisan. Kualitasnya tak mampu mengalahkan Pram dan novelis jadul Indonesia. Namun sepeninggal Pram, novel ini tetap layak dibaca. Minimal jika pembaca tak mendapat pencerahan, pembaca akan sedikit mengetahui kondisi Lembata dan masyarakat di dalamnya.
Feb
2
The Pursuit of Happyness (2006)
February 2, 2009 | Tagged Review Film | Leave a Comment
Starring: Will Smith, Thandie Newton, Jaden Smith, Dan Castellaneta, Zuhair Haddad
Directed by: Gabriele Muccino
Judul film ini merujuk pada sebuah tempat penitipan anak di daerah pecinan San Fransisco tahun 1981 yang menjadi simpul utama di film ini. Dimulai dari tempat inilah Chris Gardner (Will Smith) dan Christopher (Jaden Smith) menghabiskan banyak waktunya untuk mengejar kebahagiaan, mimpi bagi kebanyakan warga Amerika.
Chris Gardner adalah seorang salesman yang berjuang menghabiskan stok mesin pengukur kepadatan tulang portabel yang terlalu canggih dan mahal di jamannya. Tak banyak dokter dan rumah sakit yang tertarik dengan mesin itu padahal Chris sudah menghabiskan hampir seluruh tabungan keluarga untuk masuk dalam bisnis ini.
“Kebahagiaan adalah hal yang hanya bisa dikejar dan mungkin tidak benar-benar bisa didapat” begitu kata Chris pesimis ketika menyadari bahwa dirinya belum mendapat kebahagiaan sementara dia masuk dari pintu ke pintu rumah sakit setiap hari. Kebahagiaan tidak dijamin dalam konstitusi Amerika, namun negara menjamin setiap usaha untuk mengejarnya.
Lewat didepan sebuah kantor pialang saham yang dikemudian hari dikenal dengan kantor Dean-Witter, Chris kemudian mendapat inspirasi tentang kebahagiaan. Setiap orang yang keluar masuk kantor tersebut memperlihatkan wajah bahagia mereka, sesuatu yang sedang dicarinya selama ini.
Film ini bercerita tentang kegigihan mencari kebahagiaan, kekuatan mimpi, dan hubungan antara Ayah dan Anak. Salah satu adegan memperlihatkan bagaimana Chris marah pada istrinya yang meragukan inspirasi yang baru didapat didepan kantor Dean Witter, menjadi seorang pialang saham. Adegan berikutnya, Chris membiarkan istrinya pergi hanya karena kurang gigih mengejar kebahagian bersama. Sementara adegan lainnya memperlihatkan bagaimana Chris menasehati Christopher untuk berani bermimpi, mengejarnya, dan melindungi mimpi itu dari orang lain bahkan ayahnya sendiri.
Untuk mewujudkan mimpinya, Chris kemudian mendaftarkan diri pada program magang yang sedang dibukan oleh kantor Dean-Witter. Hanya 20 orang yang diterima, dan hanya satu yang akan mendapatkan pekerjaan. Yang tak dibayangkan sebelumnya, tidak ada bayaran dalam program magang tersebut. Akibatnya, Chris harus membagi waktunya antara magang, menjual ‘mesin waktu’, dan mengurus Christopher.
Tanpa bayaran, bangkrut karena rekening yang disedot dinas pajak, akhirnya Chris dan Christopher pindah dari apartemen yang tak lagi sanggup mereka bayar. Pindah ke sebuah motel murahan pun hanya bertahan selama beberapa minggu. Selanjutnya, mereka tinggal di tempat penampungan gelandangan.
Film ini memperlihatkan bagaimana seorang warga Amerika dengan ‘American dreamnya’ mengejar mimpi yang tak dijamin dalam konstitusi. Untungnya, setiap warga dilindungi haknya untuk mengejar mimpi itu. Will Smith tampaknya berhasil memainkan perannya sebagai Chris Gardner yang terhimpit berbagai kesusahan. Yang kemudian menjadi patut diacungi jempol adalah keberhasilan Jaden Smith memainkan peran perdananya sebagai Christopher.
Happy ending adalah akhir dari film ini. Berbagai adegan dramatis bagaimana susahnya mengejar kebahagiaan membuat akhir seperti inilah yang ditunggu penonton. Namun sayang, akhir seperti ini tidak selalu dapat ditemui dalam kehidupan nyata
Jan
12
hmn…
January 12, 2009 | Tagged Awal Baru | Leave a Comment
hmn…
Tahun baru, awal baru. Termasuk untuk blog di FS ini. Sayang sekali, blogku yang dulu hilang.
Aug
13
We Got It Going On Lyrics
August 13, 2008 | | Leave a Comment
(Bon Jove feat. Big & Rich)
Is there anybody out there looking for a party? Yeah!!
Shake your money maker, baby smoke it if you got it.
We just wanna have some fun if you don’t wanna kiss this
Everybody raise your hands come on I need a witness.
We Got It Goin’ On
We’ll be banging and singing just like the rolling stones
We’re gonna shake up your sole, we’re gonna rattle your bones
‘Cause We Got It Goin’ On.
Ah ha ha. Ah ha ha. Yeah Yeah. Ah ha.
You gotta pick it to kick it, I wanna hear you scream now.
‘Cause tonight you got the right to let your head down.
Everybody’s getting down, we’re getting down to buissness
Insane, freak train, you don’t wanna miss this.
We Got It Goin’ On
We’ll be banging and singing just like the rolling stones
We’re gonna shake up your sole, we’re gonna rattle your bones
‘Cause We Got It Goin’ On.
Ah ha ha. Ah ha ha. Hey Yeah. Ah ha.
Ah ha ha. Ah ha ha. Hey Yeah. Ah ha.
[voice over]
How old in the back? And now a public service announcement
From my country cousin, he can’t even talk to the people.
[voice over Martin Luther King]
Brothers and sisters, we’re here to come together as one
And love everybody…..
[voice over]
Can I get a good night now.
[Crowd]
Yeah! Whooo!! Hooo!!
[guitar solo]
We Got It Goin’ On
We Got It Goin’ On
We Got It Goin’ On
We’ll be banging and singing just like the rolling stones
We’re gonna shake up your sole, we’re gonna rattle your bones
‘Cause We Got It Goin’ On.
Gettin’ down with Big and Rich and Richie, and Jones
Just banging and singing, why don’t you hop on along.
‘Cause We Got It Goin’ On.
Ah ha ha. Ah ha ha. Hey Yeah. Ah ha.
Ah ha ha. Ah ha ha. Hey Yeah. Ah ha.
We got it, we got it, we got it goin’ on.
We got it, we got it, we got it goin’ on……
May
21
bintang jatuh
May 21, 2008 | | Leave a Comment
ini cerita tentang sebuah bintang yang tiba-tiba jatuh. tapi tunggu, aku tidak akan menceritakannya sekarang. suatu saat nanti aku akan menceritakannya panjang lebar….
Apr
3
tersenyumlah pada jogja
April 3, 2006 | | Leave a Comment
***
Bukalah matamu
Lihat saja
Takkan ada beban dihati
Rasakan bebasnya
Ekspresikanlah dirimu…
***
Segalanya terjadi
Bila kita
Tak menutupi hati dan rasa
Jadi lepaskanlah
Tersenyumlah pada Jogja
***
Andai..
Setiap hari dijalani
Semuanya dengan pasti
Ikuti kata hati
***
Dan cobalah tak pernah
sekalipun tuk mencoba
Mengingat segala sedih
Lihat kebelakang lagi
***
Jauhkanlah putus asa
Jalanilah saja
***
Bukalah matamu
Lihat saja
Takkan ada beban dihati
Rasakan bebasnya
Ekspresikanlah dirimu…
***
Segalanya terjadi
Bila kita
Tak menutupi hati dan rasa
Jadi lepaskanlah…
Tersenyumlah pada dunia
**
Coba kita lakukan segala yang kita suka
Apa yang kita rasa
Tanpa harus kita pikir-pikir dengan selalu hati-hati
Malah jadi tak berarti
***
Apr
3
ibu….
April 3, 2006 | | Leave a Comment
***
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
***
Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ibu…
Ibu…
***
Ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluti sekujur tubuhku
Dengan apa ku membalas ibu…
Ibu…
Apr
3
yang terbaik bagimu
April 3, 2006 | | 1 Comment
#
Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung disisimu
Terngiang hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
#
Kau ingin ku menjadi
Yang terbaikmu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak
#
Teringat saat-saat itu
Kau biarkan aku mencuri pulsamu
Serunya saat itu
Buatku tertantang melakukan perbuatan jahatku
Terngiang senyumanmu ketika kau dengar percakapanku
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
#
Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji takkan khianati pintanya
Ibu dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu
Kan kubuktikan kumampu penuhi maumu
#
Pastikan detik itu Kan bergulir kembali
Kuingin saat itu takkan berhenti
Karena saat itu takkan terganti
Kuingin kau terus Basuh jiwaku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
#
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji takkan khianati pintanya
Ibu dengarlah Meskipun aku tak berharga dimata dunia
Kan kubuktikan kumampu penuhi maumu…
###
(mungkin ???)